Plafon KPR Pola FLPP Naik Hingga Rp70 Juta

ratih | Senin, 24 September 2012

Naiknya patokan harga maksimum rumah bersubsidi yang diberikan FLPP atau fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan, diprediksi dapat mempengaruhi besaran plafon atau nilai kredit pemilikan rumah (KPR). Menyusul kenaikan ini, plafon KPR bersubsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah diprediksi akan turut naik dan bisa lebih besar nilainya.

Sebelumnya, beberapa waktu yang lalu pemerintah menetapkan kenaikan harga rumah bersubsidi dari Rp70 juta menjadi Rp88 juta hingga Rp145 juta per unit menurut zonasi. Kenaikan ini berlaku untuk rumah bersubsidi yang bebas pajak pertambahan nilai.

Irman Zahiruddin, Direktur Mortgage and Consumer Banking Bank Tabungan Negara (BTN), mengungkapkan sebelumnya BTN telah menaikan plafon KPR FLPP BTN menjadi Rp63 juta dari yang semula berkisar sebesar Rp56 juta. Besaran plafon ini diperkirakan masih akan mengalami kenaikan lagi, dengan adanya ketentuan maksimum harga rumah bersubsidi berdasarkan zonasi ini. Irman menambahkan, pihaknya berharap plafon KPR FLPP ini dapat naik sekitar Rp70 juta per pinjaman. 

BTN juga meningkatkan target pembangunan rumah bersubsidi pola FLPP ini dari 16.000 unit menjadi 50.000 unit. Menurut Irman, sebagaimana dikutip dari Pikiran Rakyat, pembangunan rumah bersubsidi dengan pola FLPP untuk saat ini lebih  banyak untuk segmen menengah ke bawah atau rumah dengan luas bangunan hingga 70 meter persegi.

Penyaluran KPR BTN pada kuartal IV tahun 2012 ini diprediksi akan mencapai angka 27-28 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan kredit pada industri perbankan Indonesia.



comments powered by Disqus