Pentingnya Melakukan Studi Kelayakan Bisnis Sebelum Berinvestasi

ratih | Jum'at, 20 September 2013

Investasi Studi kelayakan bisnis atau Feasibility study sangatlah penting dilakukan sebelum Anda berinvestasi atau memulai usaha, baik di bidang jasa maupun manufacturer.

Dengan studi kelayakan ini, memungkinkan Anda untuk menghindari atau menanggulangi risiko-risiko bisnis yang mungin terjadi di masa mendatang. Selain itu, Anda juga dapat melihat dari sisi prospek bisnis dan kompetitor apakah bisnis yang akan dilakukan tersebut layak atau tidak.  Apakah secara sistem manajemen, baik keuangan, SDM, dan manajemen pemasaran sudah siap atau belum.

Apalagi, dalam berinvestasi tidak hanya melibatkan sejumlah uang saja, tapi juga memerlukan sumber daya lain seperti SDM (sumber daya manusia), SDA (sumber daya alam), begitu juga dengan sarana dan prasarana lainnya.

Beberapa alasan mengapa studi kelayakan atau feasibility study harus dilakukan oleh calon investor adalah:

  1. Memberikan arah yang jelas terhadap rencana investasi.
  2. Memberikan gambaran mengenai kelayakan bisnis tersebut untuk dijalankan.
  3. Identifikasi awal terhadap risiko yang mungkin terjadi.
  4. Menyediakan informasi yang akurat sesuai dengan kondisi lapangan, yang berguna untuk mengambil keputusan.
  5. Sebagai penarik investor.
Pentingnya studi kelayakan bisnis

 

3 Tahap Studi Kelayakan Bisnis

Adapun, untuk melakukan studi kelayakan bisnis/usaha ini, setidaknya ada tiga tahapan yang harus dilalui, di antaranya:

  • Indentifikasi

Identifikasi dilakukan calon investor dengan cara melakukan pengamatan terhadap lingkungan bisnis untuk memperkirakan kesempatan dan ancaman yang mungkin terjadi pada usaha/bisnis, sehingga investasi bisa benar-benar tepat sasaran.

  • Penilaian

Analisa dan penilaian bisa dilakukan oleh calon investor dari beberapa aspek, seperti:

Aspek Pasar, mencakup jumlah permintaan, penawaran, besaran harga, strategi pemasran, perkiraan penjualan ,dan market share.

Aspek Keuangan, mencakup dana investasi, proyeksi keuangan, sumber-sumber pembelanjaan, perkiraan penghasilan, perkiraan biaya, perkiraan laba rugi, dan lainnya.

Aspek ekonomi dan sosial, mencakup dampak usaha atau proyek terhadap masyarakat ataupun negara, pengaruh usaha terhadap usaha atau industri lain yang sudah ada, ketenagakerjaan, dan aspek lain yang bersifat sosial seperti dampak lingkungan dan sebagainya.

Aspek hukum, mencakup bentuk badan hukum yang dipakai, jaminan yang dapat disediakan bila terdapat sumber dana yang berasal dari pinjaman atau kredit usaha, akta, sertifikat, dan ijin-ijin lain yang diperlukan.

  • Perumusan

Calon investor harus dapat menerjemahkan kesempatan investasi ke suatu rencana usaha yang konkret. (raw)

Sumber: KabarBisnis



comments powered by Disqus